Contoh PTK Bahasa Inggris SMP

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Bahasa Inggris SMP

Salam hangat bagi pengunjung setia blog Kumpulan Contoh PTK. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan berbagi posting tentang "Contoh PTK Bahasa Inggris SMP", untuk lebih lengkapnya silakan sobat membaca atau melihat-lihat posting terdahulu yang membahas tentang "Contoh PTK Bahasa Inggris SD".

Contoh PTK Bahasa Inggris SMP

Berikut ini adalah kutipan pendahuluan Penelitian Tindakan Kelas Bahasa Inggris SMP yang disusun oleh Ni Made Ratminingsih, semoga bisa memberikan sedikit gambaran dan tambahan referensi, khususnya bagi para sobat pengunjung blog Kumpulan Contoh PTK yang sedang sibuk menyusun PTK.

TEKNIK MISTAKE BUSTER DALAM PEMBELAJARAN GRAMATIKA : UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN GRAMATIKA DAN PARTISIPASI SISWA KELAS I SMP NEGERI 1 SUKASADA DALAM PEMBELAJARAN DENGAN ORIENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

oleh
Ni Made Ratminingsih
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha

Pembelajaran Bahasa Inggris dengan kurikulum berbasis kompetensi menghendaki pembelajar agar dapat menggunakan bahasa target yang dipelajari dalam berkomunikasi secara nyata dalam konteks berbahasa aktual.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah dalam hal ini Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2002) memperkenalkan pembelajaran yang berpendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL). CTL adalah suatu konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Guru hendaknya mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pembelajaran bahasa dengan demikian harus mengutamakan keterampilan berbahasa yang meliputi listening, speaking, reading dan writing. Dengan menguasai keempat keterampilan utama berbahasa tersebut, siswa dapat menjadi pembelajar yang memiliki kompetensi komunikatif.

Di samping keempat keterampilan tersebut di atas, perangkat pendukungnya seperti kosakata, gramatika, dan lafal memegang peranan yang sangat penting. Tanpa penyertaan aspek-aspek kebahasaan ini dalam pembelajaran, keterampilan berbahasa yang menjadi penekanan pembelajaran tidak akan dapat tercapai.

Aspek gramatika yang menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran harus dikuasai dengan baik oleh pembelajar karena tanpa penguasaan aspek ini niscaya mereka mampu mengkonstruksi kalimat-kalimat dengan benar baik secara tertulis maupun secara oral.

Temuan peneliti di lapangan mengindikasikan bahwa pembelajaran gramatika bahasa Inggris yang begitu kompleks belum mendapat penanganan yang serius. Hasil observasi peneliti membuktikan bahwa guru bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sukasada lebih banyak menangani pembelajaran keterampilan reading dengan penekanan pada pemahaman kosakata yang berhubungan dengan teks bacaan dan pemahaman isi bacaan. Dalam melaksanakan pembelajaran guru lebih banyak menggunakan teknik question and answer dalam mengarahkan pemahaman siswa terhadap bacaan dan teknik translation dalam membantu pemahaman siswa terhadap kosakata. Kegiatan selanjutnya diarahkan pada penyelesaian tugas-tugas (tasks) yang menyertai reading text. Setelah mengerjakan tugas-tugas tersebut, siswa kemudian menuliskan jawaban-jawabannya di papan tulis. Apabila siswa melakukan kesalahan  dalam menjawab  tugas-tugas yang dikerjakan khususnya yang berhubungan dengan kesalahan gramatika, maka yang dilakukan guru biasanya adalah memperbaiki kesalahan tersebut (teacher correction) dan dilanjutkan dengan penjelasan terhadap kesalahan tersebut. Teknik yang dipakai dalam menjelaskan kesalahan siswa lebih cenderung menggunakan teknik Deductive, yaitu dengan memberikan aturan gramatika disertai dengan contoh penggunaannya dalam kalimat.

Temuan peneliti di atas diakui oleh guru pengajar bahasa Inggris di sekolah tersebut bahwa memang demikian yang terjadi di lapangan, guru selalu menjadi source corrector untuk kesalahan siswa baik itu kesalahan gramatika maupun kesalahan dalam lafal dalam kegiatan membaca. Walaupun sudah dibantu mengoreksi kesalahan gramatika yang dibuat dan diberi penjelasan secara deduktif, kesalahan-kesalahan gramatika masih terus muncul, dan bahkan ini berpengaruh terhadap hasil tes, dimana kemampuan pemahaman gramatika mereka dinyatakan masih lemah.

Fenomena tersebut di atas terjadi karena (1) guru tidak berusaha memvariasikan pembelajaran khususnya pembelajaran gramatika yang lebih menantang mereka untuk belajar mengoreksi pekerjaan sendiri atau pekerjaan orang lain, (2) siswa tidak mempunyai pengetahuan atau pemahaman yang cukup tentang aturan-aturan gramatika untuk melakukan koreksi, dan (3) guru merasa bahwa dengan koreksi dari guru maka permasalahan lebih cepat teratasi.

Mengacu pada permasalahan di atas, peneliti ingin membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru, yaitu dengan menggunakan teknik "Mistake Buster" yang lebih memfokuskan pada partisipasi aktif siswa untuk mengevaluasi sendiri kesalahan-kesalahan gramatika yang sengaja dibuat oleh guru atau dipersiapkan oleh guru. Huynh (2003:1) menyatakan bahwa teknik ini sangat efektif untuk mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran dengan berlatih mengkoreksi kalimat-kalimat yang salah sendiri. Banyak keuntungan yang didapatkan melalui pemanfaatan teknik ini, antara lain: (1) Dengan mengubah peran dari "Mistake corrector" Huynh menemukan bahwa pembelajar lebih bergembira dalam belajar. (2) Tingkat kesenangan mereka bahkan dapat ditingkatkan ketika kelas dibagi menjadi dua tim untuk berkompetisi menemukan dan memperbaiki kesalahan. (3) Pembelajar mempunyai kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan yang mungkin mereka buat dibandingkan dengan guru yang memberitahu kesalahan-kesalahan mereka. Dengan demikian mereka dapat merasakan kepuasan ketika bisa memperbaiki kesalahannya sendiri. (4) Teknik ini juga dapat membantu guru mengecek tingkat pemahaman mereka terhadap aturan-aturan gramatika atau pemahaman mereka terhadap tugas reading. (5) Teknik ini dapat dipakai untuk memberikan pengayaan dan meningkatkan  keterampilan produksi bahasa mereka (production skills) seperti writing dan pronunciation. (6) Teknik ini tidak menakutkan dan penuh dengan canda yang menjadi salah satu dasar pengondisian pembelajaran terbaik agar proses pembelajaran dapat terlaksana (Huynh, 2003:1).

Todd (2002:16) menambahkan, bahwa self-assessment sangat bermanfaat baik dalam proses pembelajaran maupun evaluasi. Dengan self-assessment pembelajar dapat lebih mengarahkan pembelajaran sendiri (self directed learning) dan lebih independen dalam menggunakan bahasa.

Teknik "Mistake Buster" yang diperkenalkan oleh Huynh (2003) didasarkan pada suatu keinginan untuk membantu pembelajar bahasa untuk dapat belajar lebih baik dengan cara menciptakan berbagai kesempatan pada mereka untuk dapat merefleksikan segala sesuatu yang telah dipelajari dan dapat melihat kembali dari sisi yang berbeda. Satu cara yang telah diujicobakan oleh Huynh dan ditemukan efektif adalah dengan mempersiapkan aktivitas dimana pembelajar mengambil alih peranan dalam mengoreksi kesalahan, yang biasanya dilakukan oleh guru. Sementara itu guru berperan dengan sengaja menjadi pembuat kesalahan (Mistake maker).

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan teknik "Mistake Buster adalah sebagai berikut.........

Untuk sekedar mempelajari dan tambahan referensi klik disini guna menyimpan Contoh PTK diatas filetype:docx secara lengkap di kompi Sobat.

Itulah tadi posting tentang Contoh PTK Bahasa Inggris SMP. Terimakasih atas kunjungannya di blog Kumpulan Contoh PTK, n jangan lupa berbagi di Twitter atau Facebook sobat ya.. biar blog ini selain bermanfaat juga lebih terkenal lagi he he he. wassalam.

Apakah Blog ini bermanfaat..?

Jika Sobat merasa blog ini bermanfaat, jangan lupa like dan +1 nya Sob. Terimakasih