Contoh PTK Matematika SMP

Selamat datang di blog kumpulan Contoh PTK dan Proposal PTK. Berikut ini adalah posting tentang Contoh PTK Matematika SMP dengan Judul "Implementasi Pendekatan Kontekstual Berbatuan Lks Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTPN 4 Singaraja" yang disusun oleh sobat I Nyoman Gita (FMIPA, IKIP Negeri Singaraja). sebelumnya : Contoh PTK Tata Boga. semoga bermanfaat

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN LKS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS II SLTPN 4 SINGARAJA


oleh
I Nyoman Gita
Jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas Pendidikan MIPA,  IKIP Negeri Singaraja


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IIB3 SLTPN 4 Singaraja tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 38 orang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Data penelitian tentang prestasi belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes. Data tentang tanggapan siswa terhadap pendekatan pembelajaran yang diterapkan dikumpulkan dengan quesioner. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Rerata tes prestasi belajar pada akhir siklus I adalah 64,7 dan pada akhir siklus II reratanya 40,8. Terjadi penurunan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Penurunan rerata pada akhir siklus II disebabkan oleh sebagian besar siswa belum mampu mengaplikasikan konsep yang sudah diajarkan. Pada akhir siklus III reratanya 60,1. Bila dibandingkan dengan siklus II maka terjadi peningkatan yang signifikan Dari hasil angket yang diisi oleh semua subjek penelitian sebanyak 38 orang diperoleh 23 orang (60,5%) memberi tanggapan  positif, dan 15 orang (39,5%) memberi tanggapan negatif.

Kata  kunci :  pendekatan pembelajaran kontekstual


ABSTRACT

The aim of the research was to increase learning quality which could improve the students’ mathematic achievement. The subjects of the study were the students of class IIB3 of SLTPN 4 Singaraja in academic year of 2004/2005. This study was a classroom action research having tree cycles. The data of the study were collected by means of test, while the data about students’ response were collected by questionaire. Then they were analyzed by using descriptive statistic. In cycles I, the mean was 64.7 and in cycles II the mean was 40.8 The test result showed  the decrease from cycles I to cycles II This decrease because the students do not know application of the concept. In cycles III  the mean was 60.1.The test results showed significant increase from cycles II to cycles III. The students’ responses to learning models were 60.5% positive and 39.5% negative.

Key Word : contextual teaching and learning.

1.Pendahuluan
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 4 Singaraja merupakan SLTP Negeri di kecamatan Buleleng yang terletak di pinggiran Kota Singaraja, dan termasuk SLTP Negeri yang kurang pavorit. Lulusan SD di sekitar sekolah ini yang mempunyai NEM tinggi bukan memilih SLTP Negeri 4 Singaraja, tapi cenderung memilih SLTP Negeri 1 Singaraja.

Berdasarkan informasi dari kepala sekolah dan rekan-rekan guru yang menjadi panitia penerimaan siswa baru terungkap bahwa bahan baku (input) siswa yang masuk ke SLTP Negeri 4 Singaraja NEM nya tergolong rendah, dan banyak siswa lulusan SD yang NEM nya kurang dari 30 diterima di SLTP Negeri 4 Singaraja. Semua calon hampir bisa ditampung di sekolah ini. Rendahnya kualitas input berimplikasi rendahnya kemampuan siswa.

Berdasarkan informasi dari Ibu Kartini, salah seorang guru matematika di SLTPN 4 Singaraja diperoleh informasi bahwa hasil belajar matematika siswa rendah. Rendahnya hasil belajar ini merupakan indikator rendahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain, siswa mengalami banyak kesalahan dalam pemecahan masalah (menjawab soal). Menurut Berg (1991), kesalahan siswa dalam matematika dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu : (1) ralat yang terjadi secara acak, tanpa pola  (2) salah mengingat atau menghapal dan  (3) kesalahan yang terjadi secara konsisten, terus menerus atau kesalahan yang menunjukkan pola tertentu. Kesalahan-kesalahan ini akan berdampak negatif dalam mempelajari materi matematika lebih lanjut.

Lebih lanjut, dari informasi Ibu Kartini juga terungkap, banyak siswa mengalami kesalahan konsep dan kesalahan menerapkan definisi. Kesalahan-kesalahan ini belum pernah ditangani secara terencana, sehingga hal ini berdampak buruk dalam mengikuti pelajaran matematika berikutnya. Para guru umumnya memfokuskan diri untuk menghabiskan materi yang ada pada kurikulum dan berupaya menuangkan pengetahuannya kepada siswa sebanyak-banyaknya. Konsekuensi dari ini, guru merasa telah mengajar, tetapi mungkin siswa belum belajar, sehingga hasil belajar siswa belum memuaskan.

Pandangan konstruktivistik menekankan bahwa ada banyak cara untuk menstruktur makna dan makna itu berasal dari pengalaman individual. Konstruktivisme merupakan suatu cara untuk menjelaskan bagaimana manusia mengkonstruksi pengetahuannya. Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya tentang bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan, Piaget berkesimpulan bahwa pengetahuan dibangun dalam diri anak (Dahar,1989). Nickson (dalam Grows, 1992) menyatakan pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivistik membantu pebelajar untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali, transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep-konsep/prinsip-prinsip baru. Sadia (1996) menyatakan, dalam pandangan konstruktivistik terjadi pergeseran dari seseorang yang “mengajar” menjadi seseorang fasilitator dan mediator. Hudojo (1998) menyatakan bahwa pembentukan pengetahuan harus dibuat sendiri oleh si pebelajar atau orang yang mau mengerti. Dari pendapat-pendapat di atas, dalam pembelajaran, siswa itulah yang aktif berpikir merumuskan konsep dan mengambil makna.

Dalam proses pembelajaran, guru memulai dengan menjelaskan - memberi contoh – latihan soal (latihan soal biasanya dikaitkan dengan penerapan rumus tadi). Jadi, siswa secara langsung diberikan rumus-rumus matematika tanpa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pembelajaran hendaknya diawali dari dunia nyata dan rumus diharapkan ditemukan oleh siswa sendiri.. Sebagai contoh, sebelum menjelaskan sifat distributif, yaitu a x (b+c) = (axb)+(axc), siswa diberi pertanyaan sebagai berikut. Wayan disuruh membeli beras sebanyak 8 kg. Harga beras per kg Rp.2900,-. Berapa rupiah Wayan harus membayar?. Cara siswa menjawab kemungkinan bervariasi. Beberapa kemungkinan cara siswa menjawab adalah: 8 x (3000-100) = (8x3000) – (8x100), atau (10-2)x2900 = (10x2900) – (2x2900) atau cara lainnya. Jadi jenis jawaban dapat beragam.

Pendekatan pembelajaran yang cocok dengan KBK adalah pendekatan kontekstual atau contextusl teaching and learning (CTL). CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan guru hendaknya mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Direktorat PLP,2002). Pada pembelajaran CTL, guru tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi guru hendaknya mendorong siswa untuk mengontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri..Melalui CTL, siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghafal’.

Dalam pembelajaran, guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsepsi awal ini dapat direkam dari pekerjaan siswa dalam LKS dan dari jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan guru yang disampaikan pada awal pembelajaran. Dalam pembelajaran biasanya siswa malu atau takut bertanya kepada gurunya dan lebih suka bertanya kepada teman-temanya. Oleh karena itu, implementasi pendekatan kontekstual berbantuan LKS  perlu diterapkan. Pendekatan kontekstual memudahkan siswa memahami materi karena proses pembelajaran diawali dari dunia nyata dan rumus diharapkan ditemukan oleh siswa sendiri.

Tujuan dari penelitian ini adalah  (a) meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SLTPN 4 Singaraja dalam matematika dengan implementasi pendekatan kontekstual berbantuan LKS dan (b) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap implementasi pendekatan kontekstual berbantuan LKS.

Selengkapnya mengenai Contoh PTK Matematika SMP diatas, silakan sobat (baca disini)

Itulah tadi posting tentang Penelitian Tindakan Kelas PTK Matematika SMP. Semoga bermanfaat

Apakah Blog ini bermanfaat..?

Jika Sobat merasa blog ini bermanfaat, jangan lupa like dan +1 nya Sob. Terimakasih