Contoh PTK Biologi

Selamat datang di blog kumpulan Contoh PTK dan Proposal PTK. Berikut ini adalah posting tentang Contoh PTK Biologi dengan Judul "Pengaruh Penyisipan Berpikir Silogisme Dalam Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa Kelas Iii Smp Negeri 1 Seririt" yang disusun oleh Bpk. I Gusti Ngurah Puger (DMU-Universitas Panji Sakti). sebelumnya : Contoh PTK IPS. semoga bermanfaat

PENGARUH PENYISIPAN BERPIKIR SILOGISME DALAM PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA KELAS III SMP NEGERI 1 SERIRIT

oleh
I Gusti Ngurah Puger
Departemen Matakuliah Umum (DMU)
Universitas Panji Sakti


ABSTRAK

Dalam penelitian ini dilakukan penyisipan berpikir silogisme dalam proses pembelajaran biologi pada siswa kelompok eksperimen, sedangkan siswa kelompok kontrol tidak diberikan penyisipan berpikir silogisme. Setelah enam kali pertemuan, dilakukan pengujian pokok bahasan adaptasi makhluk hidup pada kedua kelompok perlakuan. Hasil pengujian tersebut diperoleh skor prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai t-hitung sebesar 6,023. Batas penolakan Ho pada d.b. = 78 dan taraf signifikansi 5% adalah 1,98. Karena nilai t-hitung > nilai t-tabel, berarti nilai t-hitung tersebut signifikan. Dengan kata lain, penyisipan berpikir silogisme dalam proses pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Simpulan yang dapat dirumuskan pada penelitian ini adalah  penyisipan berpikir silogisme berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi siswa.

Kata kunci : berpikir silogisme, prestasi belajar, dan pembelajaran


ABSTRACT

On this experimental research, it was conducted the insertion of syllogism mind in biology instructional process on the students in experimental group, but on students in control group was not conducted the insertion of syllogism mind. After six times meetings, the biology achievement test about life adaptation was carried out on the two groups which were treated differently. The score of the students’ achievement was obtained from the result of the test. Based on the data analysis, the value of t-ratio was 6,023, while the limitation to reject the null hypothesis (Ho) on d.b. = 78 under the significant level of 0,05 was 1,98. Because the value of t-ratio was higher than the value of t-table, so the value of t-ratio was significant. In other words, the insertion of syllogism mind in biology instructional process was influential in the students’ biology achievement. The conclusion formulated on this research was  the insertion of syllogism mind was influential in the students’ biology achievement.

Key words : syllogism mind, achievement, and instruction

1.  Pendahuluan
Inovasi di bidang pendidikan telah banyak diupayakan oleh pemerintah, baik dalam pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi guna meningkatkan kualitas pendidikan. Misalnya, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran, seminar pendidikan, dan pendidikan lanjutan. Di samping itu, inovasi dalam pembelajaran telah banyak dilakukan seperti pembelajaran melalui simulasi komputer, cara belajar siswa aktif (CBSA), atau pendekatan keterampilan proses.

Meskipun telah banyak dilakukan inovasi, hasilnya belum memuaskan. Akibat nyata yang ditemui adalah nilai rata-rata NUAN IPA dan Matematika belum berkategori baik. Nilai NUAN bukan satu-satunya ukuran menilai keberhasilan siswa, namun dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap mata pelajaran.

Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan terhadap pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Seririt ditemukan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh guru IPA masih didasari oleh suatu asumsi tersembunyi, yaitu “pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa”. Dengan asumsi  tersebut, para guru memfokuskan diri pada upaya penuangan pengetahuan ke dalam kepala siswanya. Dalam hal ini, mungkin saja guru telah merasa mengajar dengan baik, namun para siswanya tidak belajar, dalam arti bahwa tidak terjadi perubahan struktur kognitif pada diri pebelajar. Sadia (1996) berpendapat bahwa asumsi tersebut sudah saatnya untuk ditinggalkan, terutama dalam pembelajaran IPA, mengingat materi pelajaran IPA sebagian besar merupakan pengetahuan fisik (physical knowledge) dan pengetahuan logika-matematika (logico-mathematical knowledge) yang tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa.

Dengan asumsi yang keliru tersebut, para guru memfokuskan diri pada upaya menuangkan pengetahuan sebanyak mungkin kepada siswa dengan target menghabiskan materi yang dituntut di dalam kurikulum. Atas dasar asumsi ini, metode transfer informasi akan dianggap sebagai metode yang paling efektif dalam menuangkan pengetahuan kepada siswa. Model pembelajaran IPA seperti ini, akan menimbulkan kebosanan bagi siswa. Akhirnya pelajaran IPA menjadi tidak menarik, tidak disenangi siswa, dan pada akhirnya pelajaran IPA terasa sangat sulit. Sebagai konsekuensinya, prestasi belajar yang dicapai siswa belum sesuai dengan harapan seperti yang tercermin dari NUAN IPA siswa yang sangat memprihatinkan.

Banyak faktor yang sering disebut sebagai penyebab belum optimalnya kemampuan siswa dalam bidang studi IPA. Salah satu faktor tersebut adalah proses pembelajaran di kelas berorientasi pada kuantitas materi pelajaran. Guru berpandangan bahwa tugas utamanya adalah menyelesaikan bahan pembelajaran seperti yang termuat dalam GBPP atau buku ajar. Mereka seolah-olah takut dikatakan tidak mencapai target sesuai dengan materi yang disediakan GBPP. Proses pembelajaran yang seperti ini tentu saja tidak akan membawa hasil yang optimal.

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar IPA. Hal tersebut tidak hanya dialami siswa-siswa Indonesia, tetapi juga dialami oleh siswa-siswa di berbagai negara (Sumarno, 1995). Di SMP, sampai saat ini IPA dirasakan sebagai momok oleh sebagian siswa. Indikasinya adalah masih banyak siswa SMP mengalami kesulitan belajar dalam bidang studi IPA.

Model belajar yang diterapkan oleh kebanyakan guru IPA di SMP perlu segera diluruskan karena asumsi transfer pengetahuan dari pikiran guru ke pikiran siswa tidak sesuai dengan model belajar konstruktivisme. Belajar menurut teori konstruktivisme adalah merupakan kegiatan yang aktif dilakukan oleh pebelajar itu sendiri untuk membangun pengetahuannya di dalam struktur kognitifnya. Sehubung-an dengan hal ini, Piaget (1970) menyatakan bahwa: To know an object is act upon it and to transform it …. To know, therefore, is to assimilate reality into the structures of transformation, and these are the structures that intelligence constructs as a direct reflection of your actions. Pernyataan ini, secara ringkas dapat diartikan bahwa untuk mengetahui suatu objek kita harus melakukan aksi terhadap objek tersebut dan mentransformasinya. Mengetahui berarti mengasimilasi realitas ke dalam struktur-struktur transformasi. Menurut Piaget, menjadi tahu adalah suatu proses aktif dalam mana individu berinteraksi dengan lingkungannya dan mentransformasinya di dalam pikiran dengan menggunakan struktur-struktur yang telah ada dalam pikiran. Struktur pikiran merupakan sumber dari pemahaman manusia terhadap dunia nyata. Jika disimak lebih dalam, akan terlihat bahwa pendapat Piaget seperti yang dikemukakan di atas beroposisi dengan (1) teori yang memandang pikiran sebagai suatu “tabula rasa” yang menyerap informasi tanpa melalui strukturisasi, (2) teori yang menyatakan bahwa struktur-struktur mental telah ada sejak lahir, dan (3) teori realisme yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan tiruan atau replikasi realita di dalam pikiran kita. Piaget mengemukakan bahwa struktur mental atau skemata-skemata interpretasi manusia berkembang sebagai hasil interaksi yang lebih kompleks dengan dunia realita secara berurut. Karena hasil karyanya inilah, maka Piaget diberi julukan sebagai konstruktivis yang pertama.

Berdasarkan atas informasi-informasi awal di atas, maka beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya NUAN IPA siswa SMP adalah guru dalam mengajar selalu berorientasi pada soal, metode pembelajaran yang diterapkan bersifat konvensional, kurang mengadopsi model belajar konstruktivis, guru tidak memakai literatur yang relevan dan berlaku secara general, tidak melakukan pengkonkretan konsep sebelum proses belajar-mengajar dimulai, peralatan laboratorium yang kurang memenuhi standar, dan siswa kurang dilatih berpikir kritis menurut aturan-aturan logika.

Berkenaan dengan melatih siswa berpikir kritis menurut aturan-aturan logika, menurut Barber (1970), jenis logika yang cocok diberikan untuk siswa tingkat SMP adalah jenis penalaran deduktif atau silogisme. Silogisme merupakan proses pena-rikan simpulan yang dimulai dari premis mayor menuju pada premis minor. Simpulan yang diperoleh pada silogisme selalu lebih sempit cakupannya bila dibandingkan dengan premis mayor. Bilamana siswa sudah biasa dilatih dengan pola pikir silogisme, maka siswa terbiasa untuk berpikir tentang kebenaran secara formal. Dengan kata lain, kebenaran yang diperoleh siswa melalui silogisme selalu bersifat teoretis atau abstrak. Hal ini disebabkan karena siswa yang bersangkutan akan bisa mengetahui kebenaran suatu konklusi dalam sebuah silogisme bilamana memahami aturan silogisme dan kebenaran premis mayor ataupun premis minor. Dalam aturan suatu silogisme, kebenaran premis mayor dan premis minor harus ditelaah lewat kajian teoretis yang sifatnya formal.

Terkait dengan pendapat Barber tersebut, lebih lanjut Copi (1978: 210) menyatakan bahwa,
‘A syllogism is a deductive argument in which a conclusion is inferred from two premisses. A categorical syllogism is a deductive argument consisting of three categorical propositions which contain exactly three terms, each of which occurs in exactly two of the constituent propositions. A categorical  syllogism is said to be in standard form when its premisses and conclusion are all standard-form categorical proposition and are arranged in specified standard order. To specify that order, it will be useful to explain the logician’s special names for terms and premisses of categorical syllogisms. For brevity, in this article we shall refer to categorical syllogisms simply as syllogisms’.

The conclusion of a standard-form syllogism is a standard-form categorical proposition that contain two of the syllogism’s three terms. The term that occurs as the predicate of the conclusion is called the major term of the syllogism, and term that occurs as the subject term of the conclusion is called the minor term of syllogism.

Berdasarkan atas pendapat Barber dan Copi, maka dilakukan penelitian yang berjudul, “Pengaruh Penyisipan Berpikir Silogisme dalam Proses Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Biologi pada Siswa Kelas III SMP Negeri 1 Seririt”.

Pelaksanaan penelitian ini dimaksudkan  untuk mengetahui pengaruh pe-nyisipan berpikir silogisme dalam proses pembelajaran terhadap prestasi belajar biologi siswa kelas III SMP Negeri 1 Seririt.

Selengkapnya mengenai Contoh PTK Biologi SMP diatas, silakan sobat (pelajari disini)

Itulah tadi posting tentang Penelitian Tindakan Kelas Biologi SD. Semoga bermanfaat

Apakah Blog ini bermanfaat..?

Jika Sobat merasa blog ini bermanfaat, jangan lupa like dan +1 nya Sob. Terimakasih